Kemaafan Dendam Yang Terindah
Langkahan ini semakin longlai menuju destinasiNya
serasakan ada kerikil-kerikil tajam yang menusuk-nusuk setiap rongga nafas dan sum-sum sendiku
Apakah kali ini kepastian yang pernah kutagih dulu...
datang dan meminta secangkir denyut jantung yang masih berdarah.....dibawa pergi
Selama ini masih lagi tersisa sejarah pekat hitam yang hanyir
meloyakan setiap nafsu yang rakus memusuhi Tuhan...
Kerana Tuhan tidak pernah putus-putus bersejarah mememori peristiwa....
dalam setiap helai lembaran dan kalimat suci dan agung itu.
Apakah tanpa lontAran dan gamitan suara yang pernah kita igaukan suatu waktu dulu
bisa meranapkan seluruh bahtera kehidupan?
Apakah lantunan denyutan jantung ceritera suka duka dulu
bisa menghumban kasih dan sayang?
Apakah lakaran simfoni seabad dulu
bisa melunturkan nafas ghairahku?
Benarkanlah...
Biarkanlah....
Bebaskanlah..
Benarkanlah seutas lingkaran silam menjadi suatu tembok yang ampuh untuk kau teduhi...
Biarkanlah segugus memoir sendu mengukirkan senyum senda gurauku...
Bebaskanlah nafas dan kemelut nadi yang berdenyut,
yang detiknya kian lemah,
yang sendinya juga kian rapuh,
yang matanya juga kian rabun,
yang rambutnya juga kian luruh,
tanda pemergiannya jangan kau tangisi lagi...
perginya juga jangan kau lumuri kekesalan lagi...
kerana KEMAFAAN ADALAH DENDAM YANG TERINDAH.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home