Aku Sendirilah Yang Terima Padahnya

Sedang pelayaran ini menuju detinasinya
dengan deru air laut yang menghemas pulas bahtera
dan ada ketika air laut kembali tenang bersama nyanyian burung camar yang merdu melagukan zikir munajatnya untuk Tuhan
Bahtera ini semakin jauh dan jauh meninggalkan pelabuhannya
menuju kepastian yang pasti dan aku nakhodanya....
Tiba-tiba ada burung hitam besar hinggap betul-betul di atas tiang layarnya
ah...burung yang kurang ajar itu menyentak nafasku
paruhnya mematuk-matuk tiang layarku...
Ahhh...sekali lagi nafas sesakku megimbau panas
Dayusnya aku membiarkan burung hitam besar itu
menginjak-injak tiang layarku....
Dan bahtera ini apa mungkin akan aku kemudikan juga
walau burung hitam besar itu sengaja menjeling tajam padaku
menampakkan jengkelnya sambil mengejek kedayusanku
Tiang layar itu sudah tidak mampu menampung beratnya
burung hitam besar itu....
lalu patah dan jatuh ketengah lautan
yang semakin mengganas dengan nafsu serakah ombak yang menghempas...
Dan aku hanya mampu memandang tiang layarku hanyut jauh-jauh...
dan burung hitam besar itu pun terbang lagi entah ke mana.
Dulu sewaktu mahu mula belayar...
Emak dan abahku pernah berpesan
carilah tiang layar yang teguh dan kukuh
carilah tiang layar yang tidak mampu dimakan anai-anai atau
kayunya bisa teguh walau direndam air masin sekalipun
Sekarang terimalah kenyataannya...
kau sendiri yang terburu-buru untuk belayar
tanpa mengmbil kira semua kelengkapan
untuk pelayaran yang jauh...
Aku sendirilah yang terima padahnya...

