Friday, May 02, 2008

Aku Sendirilah Yang Terima Padahnya



Sedang pelayaran ini menuju detinasinya

dengan deru air laut yang menghemas pulas bahtera

dan ada ketika air laut kembali tenang bersama nyanyian burung camar yang merdu melagukan zikir munajatnya untuk Tuhan

Bahtera ini semakin jauh dan jauh meninggalkan pelabuhannya

menuju kepastian yang pasti dan aku nakhodanya....

Tiba-tiba ada burung hitam besar hinggap betul-betul di atas tiang layarnya

ah...burung yang kurang ajar itu menyentak nafasku

paruhnya mematuk-matuk tiang layarku...

Ahhh...sekali lagi nafas sesakku megimbau panas

Dayusnya aku membiarkan burung hitam besar itu

menginjak-injak tiang layarku....

Dan bahtera ini apa mungkin akan aku kemudikan juga

walau burung hitam besar itu sengaja menjeling tajam padaku

menampakkan jengkelnya sambil mengejek kedayusanku

Tiang layar itu sudah tidak mampu menampung beratnya

burung hitam besar itu....

lalu patah dan jatuh ketengah lautan

yang semakin mengganas dengan nafsu serakah ombak yang menghempas...

Dan aku hanya mampu memandang tiang layarku hanyut jauh-jauh...

dan burung hitam besar itu pun terbang lagi entah ke mana.

Dulu sewaktu mahu mula belayar...

Emak dan abahku pernah berpesan

carilah tiang layar yang teguh dan kukuh

carilah tiang layar yang tidak mampu dimakan anai-anai atau

kayunya bisa teguh walau direndam air masin sekalipun

Sekarang terimalah kenyataannya...

kau sendiri yang terburu-buru untuk belayar

tanpa mengmbil kira semua kelengkapan

untuk pelayaran yang jauh...

Aku sendirilah yang terima padahnya...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


free hit counters